Pelita News | Kabupaten Cirebon.- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon meluncurkan festival spektakuler yang menyita perhatian, bertajuk Plumbon Festival 2024. Acara ini menghadirkan pertunjukan seni budaya Gong Renteng Ki Muntili yang memukau, termasuk tari tradisional, yang digelar di Desa Kedungsana Kecamatan Plumbon.
Festival ini bukan hanya tentang merayakan seni, tetapi juga sebagai wujud komitmen terhadap pelestarian budaya lokal. Semua penampil, mulai dari Gong Renteng Ki Muntili hingga penari tradisional, adalah talenta lokal, menunjukkan betapa beragam dan kaya budaya asli Cirebon, ungkap Camat Plumbon.
Ditambahkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Drs. H. Abraham Mohamad M.S.i, menegaskan bahwa acara ini bertujuan untuk memperkuat apresiasi terhadap kebudayaan daerah dan memastikan bahwa generasi mendatang tetap terhubung dengan tradisi lokal. “Antusiasme masyarakat yang tinggi menunjukkan betapa pentingnya acara ini dalam melestarikan budaya kita,” ujar Abraham.
Plumbon Festival Seni Budaya Gong Renteng 2024 telah mencuri perhatian publik dan mengukuhkan dirinya sebagai salah satu festival seni paling ditunggu di tahun 2024 ini. Rasa penyesalan jika melewatkan kesempatan untuk menyaksikan keajaiban seni tradisional ini!.Ungkap Abraham.
Ditambahkan oleh Kabid Kebudayaan H.Sumarno S.Pd, bahwa Gong renteng Cirebon (bahasa Indonesia: gamelan Renteng Cirebon) merupakan satu set alat musik yang terdiri atas bonang dan lainnya yang dipergunakan untuk kepentingan dakwah Islam di Cirebon, berapa nama gong renteng yang berasal dari wilayah Cirebon diantaranya adalah Ki Muntili, Mega Mendung, si Kangkung, si Banjir, Pangkur tamu, Bale bandung, si Dingklik, Buntel mayit dan Ki Gamel serta Ki buyut Bulak (yang disimpan di Indramayu).
sejarahnya dari zaman Mbah Buyut Sunan Gunung Jati. Ada juga yang mengatakan, berhubungan dengan kisah Ki Gede Gamel (Ki Windu Aji) karena sudah merawat kuda-kuda milik Mataram. Lalu, Ki Gede Gamel diberi upah seperangkat gamelan yang kemudian dibawa ke Cirebon. Singkatnya, kemudian diwariskan turun-temurun sampai sekarang, Ungkap Sumarno. @Bams















