Pelita News | Cirbonkab — Gerakan menabung sejak usia sekolah kembali digaungkan di Kabupaten Cirebon. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon bersama pemerintah daerah, dunia pendidikan, Bank Indonesia, asosiasi industri, dan pelaku usaha jasa keuangan memperkuat budaya menabung melalui puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Cirebon itu melibatkan 540 siswa. Selain mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan, sebanyak 529 siswa membuka rekening Simpanan Pelajar (SimPel).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan layanan keuangan formal sekaligus membentuk kebiasaan menabung secara konsisten sejak usia dini.
Bupati Cirebon menilai kebiasaan menabung bukan semata-mata soal menyimpan uang, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter anak.
“Menabung bukan sekadar menyisihkan uang. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan menentukan prioritas, dan kebiasaan merencanakan masa depan. Karena itu, budaya menabung harus kita tanamkan sejak dini sebagai bagian dari pendidikan karakter anak-anak kita,” ujarnya.
Menurutnya, Sekolah Rakyat memiliki posisi strategis dalam membangun karakter dan kemandirian peserta didik. Kemampuan mengelola keuangan secara bijak dinilai menjadi salah satu kecakapan hidup yang perlu dikenalkan sejak bangku sekolah.
Pemerintah Kabupaten Cirebon pun menyatakan dukungan terhadap kolaborasi dengan OJK dan industri jasa keuangan untuk memperluas edukasi sekaligus akses keuangan, terutama bagi generasi muda.
Penguatan budaya menabung menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diselenggarakan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, naik dari 66,64 persen pada 2025.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan meningkat menjadi 93,61 persen, dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memahami sekaligus memiliki akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan. Namun, peningkatan akses perlu diikuti perilaku keuangan yang sehat agar masyarakat mampu menggunakan produk keuangan secara bijak, aman, dan sesuai kebutuhan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon menekankan bahwa pembentukan perilaku keuangan sehat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi kepada pelajar dinilai penting agar pengetahuan tentang keuangan tidak berhenti sebagai teori, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal senada disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Cirebon. Menurutnya, literasi keuangan bagi anak tidak sebatas mengenalkan uang dan cara menggunakannya.
“Literasi keuangan bukan hanya tentang bagaimana anak-anak mengenal dan menggunakan uang, tetapi juga bagaimana mereka belajar menentukan prioritas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta bertanggung jawab terhadap keputusan keuangannya,” katanya.
Kepala OJK Cirebon mengatakan Hari Indonesia Menabung 2026 diharapkan menjadi momentum untuk membangun kebiasaan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.
OJK Cirebon terus mendorong edukasi keuangan melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), perluasan inklusi keuangan pelajar, serta pengembangan budaya menabung dan kepemilikan rekening sejak usia sekolah.
“Kami ingin Hari Indonesia Menabung tidak berhenti sebagai sebuah momentum tahunan. Lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan kebiasaan. Karena ketika menabung sudah menjadi kebiasaan sejak dini, anak-anak akan belajar mengelola keuangan, memahami kebutuhan dan keinginan, serta mulai merencanakan masa depan,” ujarnya.
Menurut OJK, kebiasaan sederhana seperti menyisihkan uang secara rutin dapat menjadi pintu masuk bagi anak untuk memahami konsep perencanaan keuangan, prioritas kebutuhan, dan tanggung jawab terhadap keputusan finansial.
Penguatan ekosistem menabung juga melibatkan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Komisariat Cirebon bersama sejumlah Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Keterlibatan industri BPR diharapkan semakin mendekatkan layanan keuangan formal dengan masyarakat. Tidak hanya menyediakan akses terhadap produk keuangan, BPR juga didorong mengambil peran dalam edukasi dan pembentukan kebiasaan menabung.
Kolaborasi antara regulator, pemerintah daerah, sekolah, industri jasa keuangan, guru, dan orang tua menjadi faktor penting agar budaya menabung dapat terus berkembang setelah kegiatan HIM 2026 berakhir.
Pemilihan Sekolah Rakyat sebagai lokasi puncak HIM 2026 memiliki pesan tersendiri. Edukasi keuangan diberikan sejak lingkungan sekolah agar siswa memiliki bekal dalam mengelola kebutuhan dan keinginan sebelum mereka memasuki kehidupan yang lebih mandiri.
Pembukaan 529 rekening SimPel menjadi langkah konkret dari agenda tersebut.
Bagi para siswa, rekening itu bukan hanya menjadi tempat menyimpan uang. Rekening pertama dapat menjadi pengalaman awal untuk mengenal sistem keuangan formal, belajar menabung secara rutin, dan memahami bahwa merencanakan masa depan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana.
Karena pada akhirnya, menabung bukan tentang seberapa besar uang yang disisihkan, melainkan seberapa konsisten kebiasaan itu dibangun.
Melalui Hari Indonesia Menabung 2026, OJK Cirebon dan para mitranya mendorong agar kebiasaan tersebut tumbuh dari sekolah, dibawa ke rumah, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda di Cirebon dan sekitarnya.@Bams
















