Pelita News | Kab. Cirebon – Nama Moch Hasyirul Falah, http://S.Sos, di kalangan jurnalis Cirebon Timur bukanlah sosok baru. Pria yang akrab disapa Ade Falah atau Felay ini dikenal konsisten dalam dunia tulis-menulis, mengawal isu sosial kemasyarakatan, hingga tak segan mengkritisi kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.
Perjalanan karier Falah tidak instan. Sebelum terjun ke dunia pers, ia mendedikasikan diri selama hampir 10 tahun sebagai tenaga pendidik di salah satu Sekolah Dasar Negeri di wilayah Cirebon Timur. Latar belakang sebagai guru inilah yang membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial di lapangan.
Dunia jurnalistik mulai ia geluti pada tahun 2016 dengan bergabung di media lokal Suara Cirebon. Dua tahun berselang, tepatnya 2018, ia melanjutkan pengabdiannya di PRTV Cirebon hingga saat ini. Di era digital, Falah pun memperluas karyanya melalui media online http://Swaradesaku.com dan http://Transjabar.com.
Bagi Falah, jurnalistik bukan sekadar profesi untuk mencari berita. Menulis adalah panggilan untuk menyuarakan kebenaran dan kepentingan publik. Karya-karyanya kerap diwarnai kritik tajam, namun tetap konstruktif dan berimbang.
Ia menegaskan, kritik yang ia sampaikan tidak pernah ditujukan untuk menyerang pribadi seseorang, melainkan fokus pada kebijakan, sistem, dan fenomena sosial. Setiap tulisan selalu berpijak pada data dan fakta, serta tetap membuka ruang hak jawab bagi pihak yang dikritisi.
Komitmennya di dunia pers semakin kuat ketika pada tahun 2025 ia resmi bergabung menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cirebon.
Memasuki tahun 2026, bersama Arif Yolando yang menjabat Sekretaris Jenderal PWI Kota Cirebon dan sejumlah jurnalis lainnya, Falah turut menginisiasi terbentuknya komunitas Biker Jurnalis Indonesia (BJI). Komunitas ini dibentuk sebagai wadah solidaritas, kebersamaan, dan penguatan posisi wartawan yang setara di mata hukum dengan tetap menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.
BJI kemudian berkembang dengan membentuk Yayasan Bina Pena Sejahtera yang membawahi beberapa divisi, di antaranya Divisi Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) dan Divisi War Angel Indonesia (WANI). Dalam struktur tersebut, Falah dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Divisi LBH Pena Keadilan.
Berbekal pengalaman panjang sebagai pendidik dan jurnalis, Falah memiliki perspektif yang unik dalam melihat persoalan. Jika dulu ia mendidik di dalam kelas, kini ia mendidik publik melalui tulisan.
“Menurut saya, pena itu bukan hanya alat tulis. Pena adalah alat untuk merekam fakta, menyuarakan aspirasi masyarakat yang sering tak terdengar, dan menjadi pengingat ketika ada kebijakan yang melenceng,” ungkap Falah.
Ia menambahkan, wartawan tidak harus selalu diposisikan berseberangan dengan pemerintah. Pers justru menjadi mitra kritis yang harus tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara berimbang.
“Kritik itu bukan bentuk kebencian. Kritik adalah bagian dari cinta kita terhadap perbaikan. Selama tulisan itu berdasarkan fakta dan etika, maka kritik itu sehat dan perlu,” pungkasnya.
Dari ujung timur Cirebon, Moch Hasyirul Falah terus menorehkan jejak. Di tengah banjir informasi digital, ia memilih tetap pada prinsipnya: terus berkarya, tetap kritis, dan menjadikan jurnalistik sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. @Ries
















