Pelita News | Kab. Cirebon – Profesionalisme SPPG Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang sebagai pemasok Makan Bergizi Gratis (MBG) dipertanyakan. Buktinya, distribusi MBG di SMA Negeri 1 Lemahabang, Kabupaten Cirebon, berantakan total pada Rabu (07/10/2026) kemarin.
Bukan soal rasa, bukan soal menu. Tapi soal WAKTU! Mobil operasional MBG Badan Gizi Nasional milik SPPG Cipeujeuh Wetan baru tiba di sekolah pukul 15.00 WIB, bertepatan dengan siswa pulang sekolah.
Video yang diterima redaksi Pelita News merekam detik-detik memalukan tersebut. Ratusan ompreng MBG masih bertumpuk di teras sekolah, sementara siswa sudah memakai tas dan keluar kelas.
Terdengar percakapan dalam video antara guru dan petugas SPPG yang tak bisa menyembunyikan kekecewaan:
“Mangga MBG-nya bisa dibawa lagi… Ya pak, waktunya sudah 15.00 dibawa lagi ya… Sudah pada pulang, tidak ada orang“.
Akibat keterlambatan fatal ini, sebanyak 300 siswa di SMAN 1 Lemahabang dipastikan tidak menerima MBG. Program yang digadang-gadang untuk meningkatkan gizi pelajar itu akhirnya dibawa kembali oleh SPPG dalam kondisi utuh, tanpa tersentuh.
Salah seorang siswa dari 300 korban keterlambatan angkat bicara. Pelita Bintan Kamila, Siswi Kelas XE2 mengeluhkan pelayanan SPPG yang dinilai main-main.
“Kami sangat kecewa dengan keterlambatan distribusi MBG dan meminta keseriusan SPPG dalam pelayanan pemenuhan gizi untuk pelajar secara profesional sesuai tujuan program,“ tegasnya dengan nada kecewa.
Menurut siswa tersebut, program MBG sangat membantu, namun jika distribusinya terlambat dan bertepatan dengan jam pulang, manfaatnya tidak dirasakan.
“Kami sudah menunggu dari jam istirahat, tapi MBG tidak datang-datang. Pas datang jam 3 sore, kami sudah pulang,” keluh Pelita Bintan Kamila.
Keluhan ini wajar. SMAN 1 Lemahabang adalah sekolah dengan jam belajar hingga sore. Siswa membutuhkan asupan gizi di tengah aktivitas padat. Jika MBG datang saat mereka sudah pulang, untuk apa program ini?
Fakta mengejutkan diungkap pihak sekolah. Keterlambatan mepet jam pulang bukan kejadian baru.
“Kami sering mengingatkan SPPG untuk evaluasi dan tepat waktu dalam distribusi MBG. Kalau yang terlambat sampai bubar sekolah baru terjadi Rabu kemarin, tapi kalo yang mepet jam 14.00 WIB sering terjadi,“ ungkap Budiyanto, S.Pd., M.Pd.I, Humas SMA Negeri 1 Lemahabang.
Bahkan, lanjut dikatakan Budi, pernah terjadi satu kelas tidak kebagian sama sekali. Untuk menutupi kelalaian SPPG Cipeujeuh Wetan tersebut, sekolah terpaksa mengorbankan jatah para Wakasek.
“Pernah anak 1 kelas tidak kebagian, jatah Wakasek diambil semua buat mereka, kalau Wakasek jumlahnya sedikit dibandingkan jumlah siswa sekelas,“ ujarnya, Kamis (08/10/2026).
Artinya, peringatan sudah sering dilayangkan, tapi tidak ada perbaikan serius dari SPPG Cipeujeuh Wetan.
Ironisnya, SPPG sendiri yang menabrak SOP Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam SOP disebutkan, makanan MBG tidak boleh dikonsumsi lebih dari 2 jam setelah tiba di lokasi, tidak boleh dibawa pulang, dan tidak boleh dipindahkan ke tempat lain.
Logikanya, jika makanan tiba jam 15.00 WIB saat siswa sudah tidak di kelas dan pulang sekolah, maka makanan itu sudah pasti tidak bisa disalurkan dan terancam mubazir. Anggaran negara untuk 300 porsi itu pun menjadi sia-sia.
Ini bukan sekadar terlambat. Ini adalah bentuk ketidakprofesionalan manajemen distribusi. Sekolah yang pulang sore hari seharusnya menjadi prioritas kloter pertama, bukan kloter sisa yang dikirim di detik-detik terakhir oleh SPPG Cipeujeuh Wetan.
Redaksi Pelita News sudah berupaya mengkonfirmasi pihak SPPG Cipeujeuh Wetan terkait kejadian ini. Namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada klarifikasi resmi.
Publik kini menunggu, apakah BGN Kabupaten Cirebon akan melakukan evaluasi total terhadap SPPG Cipeujeuh Wetan yang lalai, atau akan membiarkan program mulia Presiden ini rusak di tangan pelaksana yang tidak disiplin hingga 300 siswa menjadi korban! @Ries













