Pelita News | Kab. Cirebon – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya resmi menjadi jembatan awal bagi siswa baru untuk mengenal sekolah. Namun MPLS tahun 2026 ini bukan hanya sekadar perkenalan gedung dan guru, konsep MPLS Pancawaluya menekankan pada penguatan karakter, nilai, dan budaya luhur siswa. MPLS ini digelar serentak di seluruh sekolah di Jawa Barat.
Pantauan Pelita News, SMA Negeri 1 Lemahabang secara resmi membuka hari pertama MPLS Pancawaluya, Rabu (15/7/2026). Dalam kesempatan kunjungannya ke SMA Negeri 1 Lemahabang, Kepala UPTD Balai Pengawasan Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Hortikultura dari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Iswanto, S.P maju sebagai Pembina Upacara.
Kepala SMA Negeri 1 Lemahabang, Nina Ernawati Purnamasari, S.Pd., M.M.Pd., mengatakan, MPLS Pancawaluya hadir sebagai masa orientasi untuk menanamkan 5 pilar utama karakter: Waluya Jati, Waluya Pikir, Waluya Tekad, Waluya Fisik, dan Waluya Sosial.
“Tujuannya adalah agar siswa baru cepat beradaptasi, mengenal visi misi sekolah, dan memahami nilai-nilai Pancawaluya sejak hari pertama. Hal ini sebagai upaya melahirkan generasi yang berkarakter, beretika, dan siap menghadapi tantangan abad 21,“ terangnya.
Pada kegiatan MPLS Pancawaluya, para siswa baru bakal belajar banyak hal. Seperti membangun karakter cageur, bageur, bener, pinter, singer, wawasan kebangsaan, literasi digital, hidup sehat sampai cara menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, bebas perundungan, kekerasan, dan bullying.
“Dengan konsep ini, MPLS Pancawaluya diharapkan mampu menciptakan ekosistem sekolah yang positif sejak hari pertama. Siswa tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga siap secara mental, sosial, dan karakter untuk menghadapi tantangan di era global,“ kata Nina Ernawati Purnamasari.
Lebih lanjut Nina Ernawati Purnamasari mengungkapkan, selama kegiatan, siswa baru akan mengikuti berbagai materi seperti: Pengenalan Visi, Misi dan Tata Tertib Sekolah, Penanaman Nilai Pancawaluya dan Karakter Bangsa, Pengenalan Kurikulum, Ekstrakurikuler, dan Lingkungan Sekolah, Edukasi Pencegahan Bullying, Kekerasan dan Narkoba, serta Kegiatan Kreatif dan Kebersamaan Antar Siswa.
“Dengan pendekatan yang humanis dan edukatif, MPLS Pancawaluya diharapkan menjadi jembatan awal yang menyenangkan bagi peserta didik baru sebelum memulai pembelajaran di kelas,“ ujarnya.
Dalam keterangan resminya, Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong seluruh sekolah untuk menjadikan MPLS sebagai momentum membangun budaya sekolah yang positif, aman, dan inklusif. Selaras dengan konsep dan materi, Disdik Jabar juga menegaskan Larangan Kekerasan dan Perpeloncoan selama MPLS Pancawaluya.
MPLS Pancawaluya harus menjadi pengalaman pertama di sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap murid baru. Selama kegiatan MPLS Pancawaluya tidak ada tempat untuk perpeloncoan, kekerasan, tugas yang tidak masuk akal, maupun atribut yang tidak edukatif.
Semua kegiatan wajib berada dalam pengawasan guru dan mengutamakan nilai-nilai karakter Pancawaluya. Disdik Jabar ingin memastikan MPLS Pancawaluya bebas dari praktik yang merendahkan dan membahayakan siswa. Fokusnya adalah penguatan karakter dan adaptasi yang positif. Dilarang tugas yang merendahkan martabat, melanggar hak anak, dan tidak mencerminkan nilai karakter Pancawaluya.
Dengan aturan ini Disdik Jabar ingin memastikan MPLS menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan. Fokusnya membangun karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, bukan perpeloncoan dan kekerasan. @Ries















