Pelita News | Jakarta,– Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 25 September 2024 menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga. Pasar keuangan menunjukkan penguatan di tengah tren pelonggaran kebijakan moneter, meskipun prospek perekonomian global mulai melemah.
Pertumbuhan ekonomi di banyak negara utama mengalami penurunan, yang dikenal sebagai synchronized slowdown. Di Amerika Serikat, The Fed menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk 2024, diiringi dengan peningkatan pengangguran dan penurunan inflasi. Sementara itu, ekonomi Tiongkok kehilangan momentum pemulihan, dengan aktivitas manufaktur yang melambat dan pengangguran mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Situasi di Eropa juga tidak lebih baik. Outlook pertumbuhan menurun dan proyeksi inflasi meningkat, yang semakin menekan perekonomian kawasan tersebut. Sebagai respons, bank sentral di seluruh dunia mulai menurunkan suku bunga dengan agresif. The Fed menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin, langkah yang pernah diambil selama krisis keuangan global 2008 dan pandemi 2020. Di Tiongkok, Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) juga aktif menurunkan suku bunga dan mengumumkan kebijakan akomodatif lainnya untuk mendukung perekonomian.
Di Indonesia, meskipun ada penurunan pertumbuhan ekonomi global, perekonomian domestik tetap stabil. Inflasi terpantau terkendali, terutama inflasi pangan, dan neraca perdagangan menunjukkan surplus sejak Juli 2024. Langkah Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin ke level 6 persen diharapkan bisa meningkatkan likuiditas dan memperkuat kemampuan lembaga keuangan untuk memberikan pembiayaan.
Dengan kebijakan moneter yang akomodatif ini, likuiditas di pasar keuangan meningkat, terlihat dari penguatan pasar global dan aliran modal yang signifikan ke negara berkembang, termasuk Indonesia.@Bams















