Pelita News | CIrebonkab – Sebelum peluit pertandingan berbunyi, sebelum keringat jatuh di arena, dan sebelum medali menemukan pemiliknya, ada satu hal yang terlebih dahulu dipanjatkan: doa.

Di Stadion Watubelah, Kabupaten Cirebon, Senin (26/10/2026), suasana pemberangkatan kontingen menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026 tidak hanya diwarnai semangat kompetisi. Ada harapan yang dititipkan, tangan-tangan yang saling menggenggam, dan doa yang mengiringi langkah para atlet menuju medan perjuangan.
Di tengah momentum tersebut, kehadiran pendakwah sekaligus pengasuh Yayasan Al Busthomi, Ustad H. M. Ujang Bustomi, menjadi perhatian. Sosok yang dikenal sebagai YouTuber, praktisi supranatural, dan pemimpin Padepokan Anti Galau itu hadir untuk memimpin doa bersama, memberikan dukungan moral dan spiritual kepada kontingen Kabupaten Cirebon.
Kehadirannya bukan untuk bertanding, bukan pula untuk mengejar medali. Ia datang membawa doa—sebuah ikhtiar batin agar para atlet yang akan berjuang senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, kelancaran, dan kekuatan dalam menghadapi setiap pertandingan.
Dalam suasana khidmat, para atlet mengikuti doa bersama dengan saling menggenggam tangan. Sebuah gestur sederhana, tetapi menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar seremoni pemberangkatan.
Di sana, tangan-tangan itu seolah berbicara tentang kebersamaan. Tentang perjuangan yang tidak mungkin ditanggung seorang diri. Tentang nama Kabupaten Cirebon yang kelak dibawa ke arena pertandingan, bukan hanya oleh satu atlet, melainkan oleh seluruh kontingen yang berdiri di bawah panji daerah yang sama.
Doa pun mengalir sebagai pengingat bahwa kemenangan bukan semata-mata perkara kekuatan fisik. Ada ketenangan pikiran, keteguhan hati, disiplin, dan keyakinan yang turut menemani seorang atlet ketika berhadapan dengan lawan-lawannya.
Bagi mereka yang akan berlaga, dukungan semacam ini menjadi bagian dari bekal mental. Sebab di balik setiap pertandingan, ada tekanan yang harus dikelola, rasa lelah yang mesti ditaklukkan, serta harapan keluarga dan masyarakat yang ikut dibawa ke arena.
Namun, doa bukanlah pengganti latihan. Ia menjadi pengiring dari kerja keras yang telah ditempuh, dari disiplin yang dibangun, dan dari keberanian untuk memberikan kemampuan terbaik ketika kesempatan bertanding tiba.
Jika doa menjadi penguat batin, harapan terhadap penghargaan prestasi menjadi penyemangat lain bagi para atlet.
Dalam kegiatan pemberangkatan kontingen tersebut, Bupati Cirebon H. Imron Rosyadi menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyiapkan bonus bagi atlet dan pelatih yang berhasil meraih medali di Porprov XV Jawa Barat 2026.
Apresiasi itu diharapkan menjadi pemacu semangat agar para atlet tidak sekadar hadir sebagai peserta, tetapi benar-benar berjuang untuk meraih prestasi dan mengharumkan nama Kabupaten Cirebon.
Bagi Imron, keikutsertaan dalam ajang olahraga tingkat provinsi bukan sekadar memenuhi kewajiban berpartisipasi. Momentum tersebut merupakan kesempatan bagi para atlet untuk menunjukkan hasil latihan, menguji kemampuan, sekaligus membuktikan bahwa Kabupaten Cirebon memiliki potensi untuk bersaing.
“Keikutsertaan kita bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban berpartisipasi, melainkan demi mencapai sukses penyelenggaraan dan sukses pencapaian prestasi,” tegas Imron.
Pesan tersebut menempatkan Porprov bukan hanya sebagai panggung pertandingan, melainkan juga sebagai ruang pembuktian bagi proses pembinaan olahraga daerah.
Sebab, di balik seorang atlet yang berdiri di garis start atau memasuki arena pertandingan, terdapat perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat. Ada latihan berulang, waktu yang dikorbankan, rasa lelah yang ditahan, serta kedisiplinan untuk terus memperbaiki kemampuan.
Karena itu, bonus bagi atlet dan pelatih berprestasi menjadi bentuk apresiasi yang diharapkan sejalan dengan kerja keras dan pencapaian yang diraih.
Imron juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Cirebon, panitia kontingen, serta seluruh pihak yang telah mempersiapkan atlet dan ofisial menghadapi kompetisi.
Dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dari perjalanan menuju prestasi. Atlet membutuhkan pembinaan yang terarah, pelatih membutuhkan dukungan dalam menjalankan program latihan, sedangkan organisasi olahraga memerlukan koordinasi dan evaluasi agar proses pembinaan berjalan berkelanjutan.
Ketua KONI Kabupaten Cirebon, H. Agus Kurniawan, bersama jajaran pengurus KONI turut hadir dalam kegiatan tersebut untuk memberikan dukungan terhadap kesiapan kontingen.
Kehadiran unsur pemerintah daerah, pengurus olahraga, tamu undangan, serta tokoh masyarakat memperlihatkan bahwa perjuangan para atlet tidak berdiri sendiri. Ada banyak pihak yang menaruh harapan pada setiap langkah mereka.
Meski demikian, prestasi tidak cukup dibangun melalui seremoni pemberangkatan atau besarnya harapan terhadap raihan medali. Hasil di arena tetap ditentukan oleh kesiapan atlet, kualitas pembinaan, strategi pertandingan, kedisiplinan, dan kemampuan menjaga konsistensi saat menghadapi lawan.
Di situlah tantangan sesungguhnya dimulai.
Porprov XV Jawa Barat 2026 menjadi kesempatan bagi kontingen Kabupaten Cirebon untuk menunjukkan hasil dari proses pembinaan yang telah dijalani. Target prestasi tentu penting, tetapi cara mencapainya juga tidak kalah berarti.
Sportivitas, penghormatan terhadap lawan, dan keberanian bertanding secara maksimal merupakan nilai yang melekat dalam olahraga. Medali dapat menjadi simbol keberhasilan, tetapi karakter dan perjuangan yang ditunjukkan atlet juga menjadi bagian dari kebanggaan daerah.
Doa yang dipimpin Ustad Ujang Bustomi, dukungan pemerintah daerah, serta apresiasi yang disiapkan bagi atlet dan pelatih menjadi rangkaian pesan bahwa perjuangan menuju prestasi membutuhkan dukungan dari berbagai sisi.
Pada akhirnya, semua harapan itu akan menemukan jawabannya di arena pertandingan.
Di sanalah latihan diuji, mental ditempa, dan keberanian memperoleh maknanya. Para atlet akan berhadapan dengan lawan, waktu, tekanan, serta batas kemampuan diri yang harus mereka lampaui.
Mereka berangkat membawa nama Kabupaten Cirebon. Mereka bertanding dengan kemampuan yang telah dipersiapkan. Dan ketika peluit akhir berbunyi, hasil apa pun yang diraih akan menjadi bagian dari perjalanan olahraga daerah yang perlu dievaluasi dan terus dikembangkan.
Semangat Cirebon Juara karena itu bukan semata-mata tentang berapa banyak medali yang berhasil dibawa pulang. Lebih jauh, semangat tersebut menuntut pembinaan yang konsisten, penghargaan terhadap kerja keras, dan komitmen untuk melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing.
Sebab, sebelum medali dikalungkan, ada perjuangan yang harus dituntaskan. Sebelum kemenangan dirayakan, ada proses panjang yang harus dihormati.@Bams
Dan dari Stadion Watubelah, langkah itu dimulai—diiringi doa, harapan, serta tanggung jawab untuk membawa nama Kabupaten Cirebon dengan penuh kebanggaan.













