Pelita News I Indramayu – Semangat luar biasa ditunjukkan para atlet bowling National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Indramayu. Meski harus berlatih dengan lapangan seadanya, mereka tetap gigih mempersiapkan diri jelang Peparda VII Jawa Barat (Jabar) 2026 di Kota Bandung.
Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan tekad mereka. Para atlet disabilitas ini rutin berlatih dengan memanfaatkan sarana yang ada, sambil terus mengasah akurasi dan fokus.
Meski jalur bowling dibuat seadanya dengan memasang karpet di dalam GOR Singalodra, Sindang, namun ukurannya sesuai standar nasional, yakni dari garis foul hingga pusat headpin memiliki panjang 18,29 meter dan lebar 1,05 meter. Standar inilah yang terus dikejar oleh NPCI Indramayu agar atlet terbiasa dengan kondisi pertandingan sebenarnya.
Meski resiko yang dihadapi atlet beragam, dari bola bowling yang gampang pecah/retak, imbas lintasan tidak sesuai standar, memasang sendiri pin bowling namun semangat mereka tidak patah arang. Mereka menerapkan peribahasa tak ada rotan akar pun jadi. Dengan kreatifitas mereka membuat jalur bowling alakadarnya. Dan ditempat alakadarnya itu, mereka mengejar mimpi untuk menjadi yang terbaik guna mengharumkan nama Bumi Wiralodra Indramayu.
Pelatih Tenpin Bowling NPCI Indramayu, M. Ihwan Komara, mengatakan pihaknya menyiapkan empat atlet untuk turun di empat nomor pertandingan. Adapun target yang dikejar adalah 3 medali yakni 1 emas dan 2 perak.
Keempat atlet tersebut yakni, Egi turun di TPB 4 single putra, Sutarno, TPB 10 single putra, Eka TPB 10 single putra serta nomor beregu, Eka dan Sutarno di TPB 10 double putra.
“Kelas yang diikuti tim bowling NPCI Indramayu ada empat nomor, dengan target 3 medali, 1 emas dan 2 perak,” ujar Dole sapaan akrabnya di sela-sela latihan, Senin (12/10/2026).
Ia menambahkan, semangat atlet menjadi modal utama. Meski fasilitas belum ideal, mental juara terus dibangun. NPCI Indramayu berharap pemerintah dan pihak terkait bisa mendukung pengadaan sarana latihan yang lebih representatif, agar prestasi atlet disabilitas Indramayu bisa semakin maksimal di Peparda mendatang.
Sala satu atlet, Sutarno membenarkan lintasan yang dipakai untuk latihan adalah hasil kreatifitas yang didesain sendiri dengan panjang dan lebar sesuai standar nasional. Keterbatasan lintasan alakadarnya itu, kata dia, selain karena efisiensi anggaran juga di Indramayu bahkan di Ciayumajakuning belum ada lintasan bowling sesuai standar. Kalaupun ada, yakni di timezone namun panjang lintasannya hanya separo lintasan resmi.
“Kalau terpaksa ingin mencoba lintasan resmi kami harus pergi ke Bandung dengan biaya sewa Rp200 ribu per jam. Kalau main 2 sampai 3 jam, berapa yang harus dikeluarkan. Jumlah tersebut belum termasuk ongkos pergi pulang team dan biaya mamin,” ucapnya. @safaro














