Pelita News | Kab . Cirebon – Kementerian Pertanian RI tancap gas kembangkan kawasan agribisnis mangga Gedong Gincu di Kabupaten Cirebon. Lewat program UPLAND (Upland Agriculture and Livestock Development Project), Kementan menggarap 550 hektare lahan yang tersebar di 26 desa, 7 kecamatan, dengan melibatkan 36 kelompok tani.
Progres program yang berjalan sejak 2025 itu ditinjau langsung Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan RI, Dr. Ir. Hermanto, M.P., bersama Bupati Cirebon H. Imron, di Kecamatan Sedong, Sabtu (10/10).
Rombongan meninjau kebun mangga di Desa Putat, lalu berlanjut ke central warehouse Koperasi Bina Tani Mandiri di Desa Sedong Kidul untuk melihat rantai hulu hingga hilir mangga Gedong Gincu.
Dirjen LIP Kementan, Hermanto, mengaku bangga dengan progres di lapangan. Menurutnya, hasil ini tidak lepas dari kekompakan pemerintah pusat, Pemkab Cirebon, kelompok tani, dan koperasi.
“Progres pekerjaan ini sangat membanggakan. Dalam waktu relatif singkat, hasilnya sudah terlihat dengan baik berkat sinergi semua pihak,” ujarnya.
Hermanto menegaskan, UPLAND tidak hanya soal genjot produksi, tapi juga kualitas panen dan kesejahteraan petani. Potensi mangga Gedong Gincu dinilai sangat besar jika dikelola dari kebun sampai meja pembeli.
“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu, kualitas produksi harus diperbaiki sejak dari kebun hingga produk sampai kepada pembeli,” tegasnya.
Bupati Cirebon, Imron, menyebut UPLAND menjadi jawaban atas keluhan petani selama ini, terutama soal akses jalan kebun yang menghambat angkutan panen. Dengan infrastruktur yang dibangun, distribusi mangga diharapkan lebih lancar.
“Alhamdulillah, bantuan ini membantu petani, terutama dalam menunjang akses menuju kawasan perkebunan. Saya berpesan agar infrastruktur yang sudah dibangun dijaga dengan baik supaya bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang,” kata Imron.
Ia juga mendorong petani tidak hanya jual buah segar, tapi mulai olah menjadi produk bernilai tambah. Dukungan UPLAND sendiri sudah mencakup 9 unit irigasi air tanah dalam, alat semprot, pupuk NPK, ZPT, hingga bantuan 1 unit mobil dan 3 unit traktor.
Ketua Koperasi Bina Tani Mandiri, Hendrik Nurwanto, menjelaskan pihaknya menaungi 36 poktan di 7 kecamatan dengan total 550 hektare. Regenerasi jadi kunci, setiap poktan diwajibkan libatkan petani milenial.
“Kami mewajibkan setiap kelompok tani melibatkan generasi milenial. Harapannya, anak-anak muda bisa mengikuti perkembangan zaman, teknologi, dan inovasi pertanian,” ungkapnya.
Untuk mangga yang tidak masuk grade A dan B, koperasi mengolahnya menjadi frozen mango atau mangga beku yang menyasar pasar hotel, restoran, dan kafe.
“Buah yang kualitasnya tidak masuk kelas A dan B tetap bisa dimanfaatkan. Melalui pengolahan mangga beku, produk tersebut mempunyai nilai ekonomi dan peluang pasar tersendiri,” jelas Hendrik.
Pada 2025 lalu, kawasan ini juga sudah diaudit tim dari Jepang untuk memastikan standar budidaya hingga penanganan pascapanen tetap terjaga demi mempertahankan pasar ekspor mangga Gedong Gincu Cirebon. @Ries













