Pelita News I Indramayu – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui kolaborasi dengan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan.
Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada pemberian keterampilan, tetapi juga mendorong warga binaan menghasilkan produk yang memiliki nilai jual hingga memperluas akses pemasaran ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Aramichi Renggalih, mengatakan keterlibatan pihak eksternal seperti CSR Pertamina menjadi bagian penting dalam mendukung program pembinaan kemandirian warga binaan.
Menurutnya, warga binaan memiliki beragam potensi dan keterampilan yang dapat dikembangkan selama menjalani masa pidana. Melalui pelatihan dan pendampingan, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
“Di Lapas Indramayu ini kita berdayakan keterampilan yang sebenarnya mungkin sudah ada sedikit atau sudah ada banyak dari mereka. Yang masih kurang nantinya dilatih, termasuk oleh sesama warga binaan yang memiliki kemampuan,” kata Aramichi dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Ia menilai program pemberdayaan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membangun kemandirian ekonomi warga binaan sekaligus menekan potensi terjadinya pengulangan tindak pidana.
Dengan memiliki keahlian dan kemampuan menghasilkan pendapatan secara mandiri, warga binaan diharapkan memiliki pilihan kehidupan yang lebih produktif setelah bebas.
“Ketika mereka sudah punya keahlian dan bisa menghasilkan untuk penghasilan sendiri maupun untuk biaya hidup dan keluarga, secara otomatis diharapkan perbuatan pidana yang pernah dilakukan tidak terulang kembali,” katanya.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Indramayu, Apudin, menjambahan bahwa keterlibatan CSR Pertamina dalam pemberdayaan warga binaan telah berlangsung sejak 2021.
Pelatihan tersebut kemudian berkembang pada berbagai produk, seperti kue kering, kacang sembunyi, rempeyek kacang, makanan kering, kue basah hingga snack box.
Tidak berhenti pada proses produksi, Lapas bersama mitra juga mendorong peningkatan kualitas produk, termasuk dari sisi pengemasan atau packaging. Upaya tersebut, kata dia, dilakukan agar produk buatan warga binaan memiliki tampilan yang lebih menarik dan mampu bersaing dengan produk sejenis di pasaran.
Selain itu, aspek legalitas dan kelayakan produk juga mulai diperhatikan, antara lain melalui sertifikasi halal dan pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta pengembangan informasi nutrisi produk.
“Untuk kemasan, packaging, dan juga halal, SLHS sudah kita tempuh dan sekarang kita mengejar ke nutrisi. Jadi produk kue kering kita bisa diterima masyarakat dan tidak kalah saing dengan produk lain di luar,” ujar Apudin.
Dari sisi pemasaran, produk warga binaan kini tidak hanya berputar di lingkungan Lapas. Produk tersebut telah mulai dikenal dan dipesan oleh sejumlah instansi, termasuk lingkungan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Indramayu.
Sala satu bentuk dukungan pemasaran dilakukan melalui kerja sama dengan Teras Balongan, yang turut menjadi ruang pemasaran produk UMKM binaan CSR Pertamina, termasuk produk kue kering buatan warga binaan Lapas Indramayu.
“Dengan Teras Balongan kita sudah kerja sama dalam hal produk kue-kue kering. Ketika dipasarkan di Teras Balongan, masyarakat Indramayu bisa mengenal produk buatan Lapas,” kata Apudin.
Menurut Apudin, pemasaran tersebut memberikan dampak positif bagi warga binaan. Mereka menjadi lebih termotivasi ketika mengetahui produk yang dibuat selama menjalani pembinaan ternyata dapat diterima dan dipesan oleh masyarakat.
Lebih jauh, keberadaan produk warga binaan di tengah masyarakat juga dinilai menjadi bagian dari upaya mengubah stigma negatif terhadap warga binaan maupun mantan warga binaan.
Kolaborasi Lapas Indramayu dan CSR Pertamina tersebut pada akhirnya diarahkan untuk menciptakan pembinaan yang berkelanjutan, sehingga keterampilan yang diperoleh warga binaan tidak berhenti ketika masa pidana berakhir, tetapi dapat menjadi modal untuk membangun usaha dan kehidupan yang lebih mandiri di masyarakat. @safaro















