Pelita News | Cirebon Timur – Cirebon Timur hari ini tak hanya dihantui oleh jalan-jalan berlubang dan pembangunan yang timpang, namun juga oleh krisis moral yang makin nyata dan mencemaskan. Di tengah geliat pembangunan fisik, tampaknya pembangunan akhlak belum menyentuh akar persoalan masyarakat.
Pemerhati Sosial Budaya Cirebon Timur, R. Hamzaiya, S.Hum menyebutkan, di sejumlah titik strategis, dari pinggir jalan hingga kawasan terselubung, keberadaan Pekerja Seks Komersial (PSK) semakin menjamur. Bukan hanya menjadi rahasia umum, tetapi sudah menjadi pemandangan biasa yang terabaikan. Ironisnya, situasi ini semakin diperparah dengan kehadiran Tenaga Kerja Asing (TKA) yang keberadaannya tidak sepenuhnya terkendali.
“Mereka, yang seharusnya memberi kontribusi pada sektor industri, justru kerap terlihat dalam kondisi mabuk di tempat umum. Pemandangan miris seperti ini kerap kali terjadi di pusat-pusat keramaian,“ ujarnya.
Ia pun mengungkapkan peredaran minuman keras yang tak kalah memprihatinkan. Miras menjadi barang yang mudah ditemukan, bahkan di tempat yang semestinya steril dari pengaruh negatif. Lebih mengkhawatirkan lagi, generasi muda kini semakin akrab dengan zat-zat adiktif. Obat-obatan terlarang menyusup masuk ke lingkungan pelajar dan pemuda desa.
“Cirebon Timur, yang dulunya dikenal dengan nilai-nilai religius dan kearifan lokal, kini digerogoti dari dalam oleh kelonggaran moral yang menyesakkan,“ ungkapnya saat berbincang dengan Pelita News, Minggu (29/6/2025).
Dalam situasi seperti ini, R. Hamzaiya menuturkan, masyarakat berharap pada panutan, pada sosok-sosok yang selama ini dijunjung tinggi seperti para kiyai dan para tokoh agama. Namun sayangnya, sebagian dari mereka justru terlihat lebih aktif di panggung politik daripada di mimbar dakwah. Kiyai yang dulu akrab dengan masjid dan pesantren, kini lebih sering terlihat di ruang-ruang pertemuan elite kekuasaan. Akrab dengan pejabat, tetapi menjauh dari umat. Maka, bukan salah bila muncul rasa rindu terhadap suara dakwah yang menyentuh, mengingatkan, dan membimbing.
“Kita tidak hendak menyamaratakan semua tokoh agama. Masih banyak yang istiqomah, masih ada yang tetap turun ke bawah, menyapa umat dengan kesahajaan. Tapi tak bisa dipungkiri, sebagian lainnya larut dalam hingar-bingar kekuasaan, lupa akan tanggung jawab moral dan sosialnya,“ tuturnya.
Ia kembali mengingatkan, saat ini Cirebon Timur sedang berada di titik kritis. Bukan hanya soal ekonomi atau pembangunan fisik, tapi soal jati diri dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi benteng masyarakat. Jika kondisi ini dibiarkan, tak hanya akhlak yang runtuh, tapi juga masa depan yang tercerabut dari akarnya.
“Maka perlu ada gerakan bersama. Dari pemerintah yang lebih tegas dalam penertiban dan pengawasan, dari masyarakat yang berani bersuara dan menjaga lingkungan, serta dari para kiyai dan tokoh agama yang kembali ke hakikatnya menjadi penerang jalan di tengah gelapnya zaman,“ imbuhnya. @Ries















